Dari agrokimia ke Syngenta
Di samping zat warna dan farmasi, perusahaan-perusahaan Basel mengembangkan bahan kimia pertanian: insektisida, fungisida, herbisida, dan bahan perlakuan benih. Penemuan DDT oleh Geigy pada 1939 merupakan produk paling terkenal dari cabang ini, tetapi Geigy, Ciba, dan Sandoz semuanya membangun bisnis agrokimia yang signifikan pada abad ke-20. Pertumbuhan pertanian dunia, revolusi hijau, dan industrialisasi pertanian menciptakan pasar yang besar bagi produk-produk ini.1
Bisnis agrokimia perusahaan-perusahaan Basel kemudian dipisahkan dari bisnis farmasinya. Setelah penggabungan Ciba-Geigy dan Sandoz menjadi Novartis pada 1996, Novartis menggabungkan bisnis agribisnisnya dengan bisnis serupa milik AstraZeneca dari Inggris-Swedia untuk membentuk Syngenta pada 2000, sebuah perusahaan yang berkantor pusat di Basel. Pada 2017, Syngenta diakuisisi oleh ChemChina, perusahaan kimia milik negara Tiongkok, dengan nilai sekitar empat puluh tiga miliar dolar, salah satu akuisisi luar negeri terbesar oleh Tiongkok.2 Akuisisi ini menimbulkan pertanyaan tentang kepemilikan asing atas perusahaan strategis, yang telah ditangani Swiss dalam perdebatannya mengenai penyaringan investasi. Akuisisi ini juga menghubungkan Basel dengan perekonomian Tiongkok. Bagian G akan kembali membahasnya.
Catatan
- Mengenai bisnis agrokimia Geigy, Ciba, dan Sandoz pada abad ke-20, lihat sejarah perusahaan-perusahaan tersebut. Perlu diverifikasi. ↩
- Mengenai pembentukan Syngenta pada 2000 dari agribisnis Novartis dan AstraZeneca, yang berkantor pusat di Basel, dan akuisisinya oleh ChemChina pada 2017 (sekitar USD 43 miliar), yang kemudian menjadi bagian dari Syngenta Group, lihat publikasi perusahaan. Perlu diverifikasi. ↩
Hanya untuk informasi umum. Artikel ini bukan merupakan nasihat hukum atau pajak, tidak menggantikan nasihat atas kasus individual, dan tidak menimbulkan hubungan antara advokat dan klien. Artikel ini mencerminkan keadaan hukum per Oktober 2026.