Klausul bahasa dan versi yang berlaku
Suatu kontrak dapat disusun hanya dalam satu bahasa, dalam satu bahasa disertai terjemahan kehormatan (courtesy translation), atau dalam dua versi atau lebih yang ditandatangani bersama oleh para pihak. Solusi paling sederhana adalah satu versi yang otoritatif, dengan terjemahan yang dibuat untuk keperluan informasi dan secara tegas dinyatakan tidak memiliki akibat hukum. Solusi ini memusatkan risiko kesalahpahaman pada pihak yang tidak menguasai bahasa kontrak, sehingga pihak tersebut sebaiknya melindungi diri melalui nasihat independen dalam bahasa itu. Dalam praktik, kontrak satu bahasa dalam bahasa Inggris merupakan bentuk standar bagi transaksi internasional yang melibatkan perusahaan-perusahaan Basel.1
Apabila kedua pihak membutuhkan versi dalam bahasa mereka masing-masing, mereka dapat menandatangani dua versi dan menyatakan salah satunya yang berlaku. Klausul yang lazim menyatakan bahwa kontrak dibuat dalam bahasa Inggris dan Jerman, bahwa kedua versi mengikat, dan bahwa versi bahasa Inggris yang berlaku apabila terdapat ketidaksesuaian di antara keduanya. Klausul ini tampak sederhana, tetapi menimbulkan pertanyaan tersendiri. Pengadilan harus memutuskan apa yang dianggap sebagai ketidaksesuaian, apakah sekadar perbedaan nuansa sudah cukup, dan apakah versi yang berlaku juga menentukan ketika versi yang di bawahnya lebih jelas atau ketika versi itu mencerminkan apa yang sebenarnya dibahas para pihak. Berdasarkan hukum Swiss, yang mengutamakan kehendak bersama para pihak yang sebenarnya, klausul bahasa yang berlaku itu sendiri merupakan salah satu unsur penafsiran. Klausul tersebut tidak menghalangi pengadilan untuk menyimpulkan bahwa kedua pihak memahami suatu istilah dalam arti versi yang di bawahnya.2
Para pihak kadang-kadang menyatakan dua versi atau lebih sama-sama autentik. Solusi ini menghormati kesetaraan para pihak dan bahasa mereka, yang menjelaskan popularitasnya dalam perjanjian hukum publik, traktat, dan sebagian usaha patungan. Dalam kontrak privat, solusi ini berisiko karena membiarkan terbuka apa yang terjadi apabila versi-versi tersebut berbeda. Hukum internasional telah mengembangkan aturan untuk kasus-kasus semacam itu, yang dibahas di bagian-bagian akhir bab ini, dan UNIDROIT Principles of International Commercial Contracts memuat aturan bawaan bagi kontrak yang dibuat dalam dua versi bahasa atau lebih yang sama-sama otoritatif. Berdasarkan Pasal 4.7 Principles tersebut, apabila terdapat perbedaan antarversi, preferensi diberikan kepada penafsiran menurut versi tempat kontrak itu semula disusun. Aturan ini mengidentifikasi versi yang paling mungkin mengungkapkan apa yang disepakati para pihak, karena versi-versi lainnya biasanya merupakan terjemahan dari versi tersebut.3
Risiko versi yang saling bertentangan paling besar apabila terjemahan disiapkan terlambat, oleh orang-orang yang tidak ikut serta dalam negosiasi, dan di bawah tekanan waktu menjelang penandatanganan. Bahkan penerjemah yang cermat tidak selalu dapat menemukan padanan bagi suatu istilah hukum. Terjemahan yang memilih kata terdekat dalam bahasa sasaran dapat memasukkan konsep yang tidak pernah dimaksudkan oleh para penyusunnya. Oleh karena itu, penyusun kontrak yang berpengalaman memperlakukan klausul bahasa sebagai bagian dari proses yang lebih luas. Mereka memutuskan sejak awal versi mana yang akan menjadi versi kerja, menjaga agar terjemahan selaras dengan setiap perubahan selama negosiasi, dan meminta terjemahan ditinjau oleh advokat yang berkualifikasi dalam hukum yang mengatur kontrak dan juga menguasai kedua bahasa.4
Klausul bahasa juga sebaiknya mengatur dokumen-dokumen yang mengikuti kontrak. Pemberitahuan, laporan, sertifikat, permintaan pembayaran berdasarkan jaminan, dan dokumen-dokumen yang dihasilkan dalam sengketa menimbulkan pertanyaan yang sama dengan kontrak itu sendiri. Klausul yang disusun dengan baik menyatakan bahwa semua pemberitahuan dan komunikasi berdasarkan perjanjian harus dibuat dalam bahasa kontrak, bahwa dokumen dalam bahasa lain harus disertai terjemahan, dan versi mana yang menentukan apabila suatu terjemahan tidak akurat. Apabila kontrak mengatur arbitrase, bahasa proses arbitrase sebaiknya dinyatakan secara terpisah karena aturan-aturan arbitrase menyerahkan pilihan tersebut kepada para pihak dan majelis arbitrase, sebagaimana dibahas di bawah ini.5
Catatan
- Mengenai klausul bahasa dalam kontrak internasional, lihat literatur praktisi tentang klausul baku (boilerplate), misalnya komentar-komentar tentang klausul standar dalam kontrak komersial internasional. Judul-judul spesifik perlu diverifikasi. ↩
- Mengenai akibat klausul bahasa yang berlaku berdasarkan hukum Swiss, lihat komentar-komentar tentang Pasal 18 Kitab Undang-Undang Hukum Perikatan Swiss (CO) dan literatur tentang penafsiran kontrak multibahasa. Perlu diverifikasi. ↩
- UNIDROIT Principles of International Commercial Contracts 2016, Pasal 4.7 (“Linguistic discrepancies”) dan komentar resminya. Perlu diverifikasi. ↩
- Mengenai pengelolaan praktis risiko penerjemahan dalam negosiasi kontrak, lihat literatur praktisi tentang penerjemahan hukum dan penyusunan kontrak. Perlu diverifikasi. ↩
- Mengenai ketentuan bahasa untuk pemberitahuan dan dokumen pelengkap, lihat preseden standar untuk klausul baku dalam kontrak internasional. Perlu diverifikasi. ↩
Hanya untuk informasi umum. Artikel ini bukan merupakan nasihat hukum atau pajak, tidak menggantikan nasihat atas kasus individual, dan tidak menimbulkan hubungan antara advokat dan klien. Artikel ini mencerminkan keadaan hukum per Oktober 2026.