Para penenun dan ketergantungan mereka
Para penenun pedesaan, yaitu Posamenter, hidup dalam kondisi ketergantungan ekonomi yang telah digambarkan oleh para sejarawan dengan berbagai istilah. Mereka memiliki atau menyewa alat tenun mereka, yang mahal dan sering kali dibiayai dengan kredit dari pedagang. Mereka menerima bahan dan pesanan dari agen pedagang. Mereka dibayar per satuan, dengan tarif yang ditetapkan oleh pedagang, sehingga penghasilan mereka bergantung pada volume pesanan, yang berfluktuasi mengikuti pasar. Ketika pasar sedang baik, para penenun dapat memperoleh penghasilan lebih besar daripada dari pertanian, sehingga desa-desa menjadi makmur. Ketika pasar sedang buruk, pesanan mengering dan para penenun jatuh miskin.1
Para penenun menggabungkan pekerjaan menenun dengan bertani. Sebagian besar dari mereka memiliki sebidang tanah kecil tempat mereka menanam sayuran, memelihara seekor sapi atau beberapa ekor kambing, serta mengolah kebun anggur atau kebun buah. Penghasilan dari menenun memungkinkan keluarga-keluarga hidup dari lahan yang jika tidak demikian tidak akan cukup untuk menghidupi mereka, sehingga memungkinkan pertumbuhan penduduk di desa-desa. Perpaduan antara menenun dan bertani juga memberikan penyangga terhadap krisis: pada tahun-tahun buruk bagi perdagangan pita, keluarga dapat mengandalkan tanahnya, dan pada saat panen buruk, menenun menyediakan uang tunai untuk membeli makanan.
Seluruh anggota keluarga turut serta dalam pekerjaan. Kaum pria biasanya mengoperasikan alat tenun, sedangkan kaum perempuan dan anak-anak menggulung sutra pada kumparan, menyiapkan benang lungsin, dan membantu menenun. Anak-anak mulai bekerja sejak usia dini, hal yang lazim pada masa itu tetapi kemudian menjadi sasaran kritik dan pengaturan pada abad ke-19. Peraturan perundang-undangan pabrik kanton Basel-Landschaft dan kemudian Undang-Undang Pabrik Federal tahun 1877, salah satu yang paling maju di Eropa pada masanya, membatasi jam kerja perempuan dan anak-anak serta melarang mempekerjakan anak-anak kecil di pabrik.2
Ketergantungan para penenun pada para pedagang merupakan sumber ketegangan sosial yang turut memicu konflik-konflik politik abad ke-19. Penduduk pedesaan kanton Basel, yang tidak diberi hak politik oleh kota, membenci baik subordinasi politiknya maupun ketergantungan ekonominya pada para pedagang kota. Ketika revolusi-revolusi tahun 1830 menyebar ke seluruh Eropa, pedesaan bangkit melawan kota dalam suatu konflik yang berujung pada pembagian kanton pada 1833, yang dikaji dalam Bagian D. Struktur ekonomi industri pita, dengan pemusatan modal di kota dan penyebaran tenaga kerja di pedesaan, merupakan salah satu akar dari pembagian tersebut.
Catatan
- Mengenai kondisi kehidupan dan ketergantungan ekonomi para Posamenter Basel, lihat literatur tentang sejarah sosial pedesaan Basel. Perlu diverifikasi. ↩
- Undang-Undang Federal tanggal 23 Maret 1877 tentang Pekerjaan di Pabrik (Fabrikgesetz), yang membatasi hari kerja menjadi sebelas jam dan melarang pekerjaan pabrik bagi anak-anak di bawah usia empat belas tahun. Perlu diverifikasi. ↩
Hanya untuk informasi umum. Artikel ini bukan merupakan nasihat hukum atau pajak, tidak menggantikan nasihat atas kasus individual, dan tidak menimbulkan hubungan antara advokat dan klien. Artikel ini mencerminkan keadaan hukum per Oktober 2026.