Filantropi keluarga Jenewa: tradisi yang panjang
Beberapa keluarga Jenewa telah menjalankan filantropi selama beberapa generasi. Yayasan-yayasan (Stiftung) yang mereka dirikan membiayai museum, lembaga kebudayaan, rumah sakit, jabatan guru besar di universitas, karya sosial, dan program-program internasional.1 Kesinambungan ini merupakan bagian dari tradisi amanah (stewardship) yang diuraikan dalam Bagian B, yang memandang kekayaan sebagai tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.
Filantropi ini telah membentuk lanskap budaya dan sosial kota tersebut. Lembaga-lembaga terkemuka di Jenewa berutang keberadaan atau perkembangannya pada sumbangan pribadi. Koeksistensi antara filantropi swasta dan tindakan publik, yang teramati sejak abad ke-16, tetap menjadi ciri khas Jenewa, tempat negara dan yayasan-yayasan bersama-sama membiayai banyak lembaga.
Bagi bank dan penasihat, keluarga-keluarga filantropis merupakan kalangan nasabah yang menuntut, yang mengharapkan keahlian dalam tata kelola yayasan, pengelolaan aset yang diperuntukkan khusus, dan koordinasi dengan lembaga-lembaga penerima. Kalangan nasabah ini juga mengharapkan keselarasan antara nilai-nilai yang dijunjungnya dan praktik-praktik mitra keuangannya, yang sejalan dengan tuntutan Jenewa Internasional (International Geneva).
Catatan
- Yayasan-yayasan mitra Geneva Centre for Philanthropy di Universitas Jenewa antara lain Fondation Hans Wilsdorf, Fondation Hélène et Victor Barbour (didirikan pada tahun 1977), Edmond de Rothschild Family Philanthropy, Fondation Lombard Odier, dan Fondations Audemars Piguet (unige.ch, halaman “Fondations partenaires”). ↩
Hanya untuk informasi umum. Artikel ini bukan merupakan nasihat hukum atau pajak, tidak menggantikan nasihat atas kasus individual, dan tidak menimbulkan hubungan antara advokat dan klien. Artikel ini mencerminkan keadaan hukum per Oktober 2026.